Jumat, 12 Februari 2016

kompleksometri

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK

KOMPLEKSOMETRI


Oleh
Tuti Sri Mulyani

Patner :
Maulana Reza
Rini Silvia
Sri Lestari
Yuliani





LABORATORIUM KIMIA ANALITIK
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS AL-GHIFARI BANDUNG
2014-2015
 
BAB I
PRINSIP DAN TUJUAN

1.1  Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan praktikum kompleksometri adalah berdasarkan pembentukan senyawa kompleks yang larut antara ion logam dengan zat pembentuk kompleks.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum adalah mahasiswa diharapkan mampu untuk menentukan kadar ion logam.
 
 
BAB II
TEORI PENUNJANG
2.1 Teori penunjang
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi titrasi kompleksometri :

Ag+ + 2 CN– Ag(CN)2
Hg2+ + 2Cl– HgCl2      
  (Khopkar, 2002).

Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral (Basset, 1994).
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :

M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O
(Khopkar, 2002).
                                                                          BAB III
CARA KERJA, ALAT DAN BAHAN
3.1  Cara Kerja

1.    Standarisasi larutan Na2EDTA :
-         Pipet 10 ml larutan Mg2SO4 0,1 N masukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian encerkan sampai dengan tanda batas.
-          Pipet 10 ml larutan hasil pengenceran tersebut ke dalam erlenmeyer tambahkan 5 ml buffer salmiak Ph 10 dan sedikit indikator EBT
-          Titrasi dengan larutan EDTA hingga terjadi perubahan warna dari merah anggur ke biru.
-          Hitung konsentrasi larutan EDTA
2.    Penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+ dalam sampel :
-          Pipet 10 ml larutan sampel masukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian homogenkan.
-          Tambahkan 10 ml buffer salmiak Ph 10 dan sedikit indikator EBT
-          Titrasi dengan larutan EDTA hingga terjadi perubahan warna dari merah anggur ke biru.
-          Hitung kadar total Ca dan Mg

3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
-       Buret
-       Labu ukur 100 ml 1 buah
-       Erlenmeyer 3 buah
-       Gelas ukur / pipet volum
Bahan yang digunakan :
-       NaCl
-       Indikator K2CrO4 5 %
-       AgNO3

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Hasil percobaan
1.    Standarisasi larutan Na2 EDTA
-       Larutan MgSO4
M = gr / mr x 1000 / ml
0,1 = gr / 120 x 1000 / 100
gr = 1,2 gram
1,2 gram MgSO4 à Aquadest ad 100 ml (m1)
Pengenceran 10 ml (m1) + aquadest ad 100 ml
-       10 ml hasil pengenceran à erlenmeyer + 5 ml buffer salmiak PH 10 dan sedikit indikator EBT
Pembuatan buffer salmiak
5,4 gr amonium klorida
70 ml Amonium hidroksida 5 M
Aquadest ad 100 ml
-       Titrasi dengan larutan EDTA
Perhitungan EDTA
M = gr / mr x 1000 / ml
0,1 = 9 / 372 x 1000 / 100
Gr = 3,72 gr

No
Volume pengenceran MgSO4
Volume awal
Volume akhir
Volume terpakai
1.
10 ml
42  ml
41,5 ml
0,5 ml
2.
10 ml
41,5 ml
41 ml
0,5 ml
3.
10 ml
41 ml
40,8 ml
0,2 ml
                                                                                       V Rata-rata = 1,2 / 3 = 0,4 ml
Perhitungan konsentrasi
V1 . N1 = V2 . N2
42 . 0,1  = 0,4 . N2
4,2 / 0,4= N2
10,5 = N2

2.    Penentuan kadar CaCl2
-       Lakukan pengenceran
M = gr / mr x 1000 / ml
0,1 = gr / 110 x 1000 / ml
Gr = 1,1 gr
1,1 gram CaCl2 à Aquadest ad 100 ml (m1)
Pengenceran 25 ml (m1) + aquadest ad 100 ml
-       10 ml buffer salmiak Ph 10 dan sedikit indikator EBT
-       Titrasi dengan EDTA ad warna biru

No
Volume CaCl2
Volume awal
Volume akhir
Volume terpakai
1.
10 ml
30 ml
29 ml
1 ml
2.
10 ml
29 ml
28 ml
1 ml
3.
10 ml
28 ml
27 ml
1 ml
                                                                                                                   V rata-rata = 1 ml
Perhitungan kadar CaCl2
V1 . N1 = V2 . N2
30 . 0,1  = 1 . N2
3 / 1= N2
3 = N2     
Jadi kadar CaCl2 adalah 3
Pembahasan
Pada praktikum ini, kami melakukan proses titrasi kompleksometri. Titrasi kompleksometri adalah titrasi yang melibatkan reaksi ion logam dengan zat pengompleks/zat ligand. Dimana zat pengompleks yang digunakan pada praktikum ini yaitu EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetate) dan ion logamnya yaitu Ca2+. Sebelum melakukan proses titrasi ini, kami melakukan proses pembakuan larutan EDTA. Dan sebelum melakukan proses pembakuan larutan, kami pun membuat larutan yang diperlukan terlebih dahulu. Larutan EDTA 0,01 M, larutan dapar pH 10 dan larutan indikator EBT (Eriochrome Black T) sudah tersedia. Maka, kami pun membuat larutan baku kalsium.
Larutan baku kalsium dibuat dari padatan CaCO3 pa, larutan HCl dan air. Padatan CaCO3 yang digunakan itu pa (pro analys), karena salah satu syarat larutan standar primer yaitu tingkat kemurniannya pa. Sebelum dilakukan titrasi Ca dilakukan terlebih dahulu pembakuan larutan EDTA. Proses pembakuan dilakukan karena EDTA merupakan larutan standar primer, maka harus distandarisasi terlebih dahulu dengan larutan standar primer (larutan baku kalsium) sebelum melakukan proses titrasi.
Setelah proses pembuatan larutan baku kalsium, dilakukanlah proses pembakuan larutan EDTA. Larutan baku kalsium dipipet, kemudian dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Karena, dengan labu erlenmeyer akan lebih memudahkan dalam proses titrasi, terutama dalam proses pengocokkan. Setelah itu, ditambah larutan dapar pH 10. Penambahan  larutan dapar pH 10 berfungsi supaya suasana dalam keadaan basa ketika melakukan proses titrasi dan untuk mempertahankan nilai pH. Lalu, ditambahkan aquades. Sebelum melakukan proses titrasi, ditambahkan indikator EBT. Penambahan indicator EBT berfungsi sebagai indikator pH. Dengan ditambahkannya indikator EBT,   maka terbentuk CaIn– yang berwarna merah anggur (pink). Jika sudah terbentuk larutan berwarna merah anggur (pink), maka proses titrasi antara larutan EDTA dan larutan baku kalsium dapat langsung dilakukan.
Setelah didapat larutan berwarna biru langit, proses titrasi dihentikan. Saat itulah, mol CaCl2 sama dengan mol EDTA, dan hal ini dinamakan titik akhir titrasi. Dimana reaksi yang terjadi selama proses titrasi yaitu
Ca2+    +      HIn2-   →  CaIn–  +  H+
CaIn–     +   H2Y2-      →     CaY2- + HIn2- + H+
                                                           (merah anggur)    +     (biru)

Dari proses titrasi tersebut, didapatkan konsentrasi EDTA sebesar 10,5 N.
Kemudian, kami melakukan titrasi Ca. Langkah kerja yang dilakukan sama dengan proses pembakuan larutan EDTA. Hanya terdapat perbedaan ketika ditambahkannya larutan dapar pH 10. Dimana pada proses ini, larutan dapar pH 10 yang digunakan lebih banyak 1 mL.
Dalam praktikum juga dilakukan titrasi kesadahan total dari sampel air. Kesadahan air adalah adanya kandungan mineral-mineral tertentu yang terdapat di dalam air, pada umumnya mineral itu adalah ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Proses titrasi dilakukan mirip dengan titrasi pembakuan larutan EDTA yaitu menggunakan indicator EBT dan larutan dapar pH 10. Hanya saja sampel yang digunakan adalah air. Setelah dilakukan titrasi dan didapatkan titik ekuivalennya, dapat ditentukan kesadahan total dari air yaitu sebesar 103 ppm. Selain menghitung kesadahan CaCl2 yaitu 3 M.


KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Konsentrasi larutan EDTA 10,5 N Kadar Ca yang diperoleh 3 M.

Disakarida



`DISAKARIDA (C12H22O11)n’

Disusun oleh :
Lufi Nur Rudin
Nurmala Purwanti
Sri Lestari
Tuti Sri Mulyani
Winarni Sri Astuti

Ditujukan untuk memenuhi Tugas Kimia Organik II



FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS AL-GHIFARI
2016


 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “DISAKARIDA (C12H22O11)n” yang merupakan salah satu tugas terstruktur Kimia Organik II pada semester tiga.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih Kepada :
1.      Bapak Urip Muriyanto,S.Si M.Pd selaku dosen mata kuliah Kimia Organik II yang telah memberikan tugas mengenai “DISAKARIDA (C12H22O11)n” ini sehingga pengetahuan Penulis bertambah mengenai materi ini.
2.      Pihak-pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu yang telah turut membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dalam waktu yang tepat.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, namun penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran yang bersifat menbangun akan penulis terima dengan senang hati.




Bandung, Januari 2016




                                                                                                                               Penulis


BAB I

PENDAHULUAN

Dari tahun ke tahun, rahasia makanan semakin terkuak. Mula-mula mereka secara sederhana dapat menemukan makanan yang berguna bagi manusia maupun hewan danmana yang tidak berguna. Mereka mengamati bahwa manusia yang tidak atau kurang makan akan sakit. Mereka mengamati juga apabila makanan tersebut pahit pasti tidak  baik bagi tubuh. Pertanyaanpun berkembang, mengapa makanan ini berguna, sementara yang lain tidak ? Mengapa buah tertentu rasanya manis, sementara buah lain rasanyaasam ? Mengapa sayuran tersebut berwarna hijau, sementara yang lain berwarna putih?. Mengapa-mengapa tersebut semakin mengumpul dan menggumpal dalam bentuk tanda tanya yang semakin membesar.Mula-mula ditemukanlah zat-zat makanan yang mempunyai kegunaan besar bagimanusia maupun hewan. Penemuan tersebut dimulai dari adanya karbohidrat, protein,lemak, vitamin dan mineral. Kemudian menyusul penemuan zat-zat makanan yanglebih mikro lagi yang biasanya merupakan bagian dari zat-zat makanan di atas.Karbohidrat misalnya, setelah diteliti lebih dalam ternyata merupakan kumpulansenyawa yang dapat diklasifikasikan lagi sebagai monosakarida, disakarida,oligosakarida dan polisakarida. Demikian juga setelah diperdalam oleh para penelititernyata turunan karbohidrat tersebut masih juga dapat dipecah lagi menjadi senyawayang lebih kecil lagi. Seperti misalnya, monosakarida terdiri dari fruktosa, galaktosa,manosa dan glukosa. Setelah diteliti lagi ternyata turunan monosakarida tersebut masihdapat dibagi-bagi lagi, sehingga diketemukanlah komponen dasar pembentuk karbohidrat. Sekarang para ilmuwan maupun peneliti sudah dapat mengetahui bahwakomponen dasar kimia karbohidrat adalah Karbon, Hidrogen dan Oksigen.
Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur.
Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh makhluk hidup. Monosakarida, khususnya
glukosa, merupakan nutrien utama sel. Misalnya, pada vertebrata, glukosa mengalir dalam aliran darah sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Sel-sel tubuh tersebut menyerap glukosa dan mengambil tenaga yang tersimpan di dalam molekul tersebut pada proses respirasi selular untuk menjalankan sel-sel tubuh. Selain itu, kerangka karbon monosakarida juga berfungsi sebagai bahan baku untuk sintesis jenis molekul organik kecil lainnya, termasuk asam amino dan asam lemak.
Sebagai
nutrisi untuk manusia, 1 gram karbohidrat memiliki nilai energi 4 Kalori. Dalam menu makanan orang Asia Tenggara termasuk Indonesia, umumnya kandungan karbohidrat cukup tinggi, yaitu antara 70–80%. Bahan makanan sumber karbohidrat ini misalnya padi-padian atau serealia (gandum dan beras), umbi-umbian (kentang, singkong, ubi jalar), dan gula.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Disakarida

Disakarida adalah karbohidrat yang tersusun dari 2 molekul monosakarida, yang dihubungkan oleh ikatan glikosida. Ikatan glikosida terbentuk antara atom C 1 suatu monosakarida dengan atom O dari OH monosakarida lain. Hidrolisis 1 mol disakarida akan menghasilkan 2 mol monosakarida. Berikut ini beberapa disakarida yang banyak terdapat di alam.
Disakarida dibentuk oleh kombinasi kimia dari dua molekul monosakarida dengan pembebasan satu molekul air. Bentuk disakarida yang umum adalah sukrosa, maltosa, laktosa dan selobiosa. Sukrosa merupakan gabungan dari glukosa dan fruktosa dengan ikatan α (1-5) yang dikenal sebagai gula dalam kehidupan sehari-hari. Sukrosa umumnya terdapat dalam gula tebu, gula bit serta gula mapel. Maltosa merupakan gabungan glukosa dan glukosa dengan ikatan α (1-4). Maltosa terbentuk dari proses hidrolisa pati. Laktosa (gula susu) terbentuk dari gabungan galaktosa dan glukosa dengan ikatan β (1-4). Selubiosa merupaka gabungan dari glukosa dan glukosa dengan ikatan β (1-4). Selubiosa adalah sakarida yang terbentuk dari sesulosa sebagai hasil kerja enzim selulose yang berasal dari mikroorganisme.

1.2     Klasifikasi Disakarida

1.3     Pembentukan Disakarida

Disakarida terbentuk ketika dua monosakarida bergabung dan satu molekul air dilepaskan, suatu proses yang dikenal sebagai reaksi dehidrasi. Misalnya, gula susu (milk sugar), laktosa, terbentuk dari glukosa dan galaktosa, sedangkan gula tebu (sugar cane) dan gula bit (sugar beet), sukrosa, terbentuk dari glukosa dan fructose. Maltosa, suatu disakarida terkenal yang lain, terbentuk dari dua molekul glukosa. Dua monosakarida itu terikat melalui suatu reaksi dehidrasi, juga disebut reaksi kondensasi atau sintesis dehidrasi (dehydration synthesis), yang menghasilkan terlepasnya suatu molekul air dan pembentukan ikatan glikosidik.

1.4     Sifat Disakarida

Ikatan glikosidik dapat terbentuk antara suatu gugus hidroksil manapun pada komponen monosakarida. Jadi, meskipun kedua komponen gula sama (misalnya, glukosa), dapat terjadi kombinasi ikatan yang beragam baik secara lokasi (regiochemistry) dan ruang (stereokimia, seperti alfa- atau beta-) sehingga dihasilkan disakarida yang merupakan diastereoisomer dengan sifat-sifat kimia dan fisika yang berbeda.
Tergantung dari komponen monosakarida pembentuknya, disakarida kadangkala berbentuk kristal, kadangkala larut dalam air, kadangkala berasa manis dan terasa lengket.

1.5     Contoh Disakarida

1.   Beberapa Contoh Disakarida Umum:
·         Sukrosa – Glukosa + Fruktosa
·         Laktulosa – Galaktosa + Fruktosa
·         Laktosa – Galaktosa + Glukosa
·         Maltosa – Glukosa + Glukosa
·         Cellobiosa – Glukosa + Glukosa

2.6 Macam – macam Disakaida

Berikut ini beberapa disakarida yang banyak terdapat di alam:
1.      Maltosa
Maltosa adalah suatu disakarida dan merupakan hasil dari hidrolisis parsial tepung (amilum). Maltosa tersusun dari molekul α-D-glukosa dan β-D-glukosa.
 



Dari struktur maltosa, terlihat bahwa gugus -O- sebagai penghubung antarunit yaitu menghubungkan C 1 dari α-D-glukosa dengan C 4 dari β-D-glukosa. Konfigurasi ikatan glikosida pada maltosa selalu α karena maltosa terhidrolisis oleh α-glukosidase. Satu molekul maltosa terhidrolisis menjadi dua molekul glukosa.
1.      Sukrosa
Sukrosa terdapat  dalam gula tebu dan gula bit. Dalam kehidupan sehari-hari sukrosa dikenal dengan gula pasir. Sukrosa tersusun oleh molekul glukosa dan fruktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,2 –α.

                              

                                  Struktur sukrosa
 












Sukrosa terhidrolisis oleh enzim invertase menghasilkan α-D-glukosa dan β-D-fruktosa. Campuran gula ini disebut gula inversi, lebih manis daripada sukrosa.
Jika kita perhatikan strukturnya, karbon anomerik (karbon karbonil dalam monosakarida) dari glukosa maupun fruktosa di dalam air tidak digunakan untuk berikatan sehingga keduanya tidak memiliki gugus hemiasetal.
Akibatnya, sukrosa dalam air tidak berada dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehid atau keton sehingga sukrosa tidak dapat dioksidasi. Sukrosa bukan merupakan gula pereduksi.
1.   Laktosa
Laktosa adalah komponen utama yang terdapat pada air susu ibu dan susu sapi. Laktosa tersusun dari molekul  β-D-galaktosa dan α-D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4'-β.




Hidrolisis dari laktosa dengan bantuan enzim galaktase yang dihasilkan dari pencernaan, akan memberikan jumlah ekivalen yang sama dari α-D-glukosa dan β-D-galaktosa. Apabila enzim ini kurang atau terganggu, bayi tidak dapat mencernakan susu. Keadaan ini dikenal dengan penyakit galaktosemia yang biasa menyerang bayi. 

BAB III

PENUTUP


Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari dua molekul monosakarida yang berikatan melalui gugus -OH dengan melepaskan molekul air.
Contoh-contoh disakarida adalah maltosa , sukrosa , laktosa.
Sukrosa tidak mempunyai gugus OH bebas yang reaktif karena keduanya sudah saling terikat. Maltosa adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molckul glukosa. Ikatan yang terjadi ialah antara atom karbon nomor I dan atom karbon -nomor 4, oleh karenanya maltosa masih mempunyai gugus -OH glikosidik dan dengan demikian masih mempunyai sifat mereduksi. Laktosa terbentuk dari gabungan 1 molekul glukosa dan 1 molekul galaktosa. Disakarida terbentuk ketika dua monosakarida bergabung bersama-sama dan molekul airnya dihilangkan. Hal ini dikenal sebagai “sintesis dehidrasi atau reaksi kondensasi”. Hasil sintesis disakarida dapat disimpan dengan relatif mudah, dan digunakan sebagai bahan dalam pembuatan berbagai jenis makanan.
·         Sukrosa (gula meja, gula tebu, gula bit): Ini adalah berwarna putih, tidak berbau, bubuk kristal dengan rasa manis. Hal ini paling dikenal karena perannya dalam gizi manusia. Sukrosa terdiri dari glukosa (monosakarida) dan fruktosa (monosakarida).
·         Laktulosa: Ini adalah gula sintetis yang digunakan dalam pengobatan sembelit dan penyakit hati. Hal ini terbentuk dari fruktosa dan galaktosa (monosakarida).
·         Laktosa (gula susu): Hal ini ditemukan dalam susu. Laktosa terbentuk dari galaktosa dan glukosa. Laktosa memiliki struktur molekul yang kompleks, dan sehingga beberapa orang tidak mampu mencernanya dengan baik.
·         Maltosa: Hal ini juga dikenal sebagai gula malt dan terbentuk dari ikatan antara dua unit glukosa. Hal ini digunakan dalam pembuatan permen lembut seperti cokelat.
·         Trehalosa: Hal ini juga dikenal sebagai mycosa atau tremalosa. Hal ini terbentuk dari ikatan dalam unit-unit glukosa. Ini berfungsi sebagai antioksidan.
·         Selobiosa: disakarida ini berasal dari kondensasi dua molekul glukosa.
 Disakarida yang mengalami Pengurangan : Dalam jenis disakarida ini, gula pereduksi adalah unit ‘hemiasetal’ bebas. Hemiasetal adalah senyawa yang berasal berturut-turut dari aldehid dan keton. Aldehida adalah senyawa organik. Gugus fungsi ini, dengan struktur R-CHO, terdiri dari pusat karbonil terikat pada hidrogen dan gugus R. -CHO disebut gugus aldehid atau formil. Banyak wewangian adalah aldehida. Keton juga senyawa organik dengan struktur RC (= O) R ‘di mana C = O adalah kelompok keton. Contoh disakarida dengan pengurangan ini adalah maltosa dan Selobiosa. Disakarida Non-pengurangan: Pada tipe ini, monosakarida memiliki satuan hemiasetal bebas. Contoh disakarida non-pengurangan adalah sukrosa dan Trehalosa.